TRAINING PERSIAPAN PENSIUN (PRE-RETIREMENT TRAINING)
INTRODUCTIONÂ PELATIHAN PERSIAPAN PENSIUN
Manusia tidak terlepas dari aktivitas bekerja. Ada orang yang bekerja
untuk mencari uang, ada yang bekerja untuk mengisi waktu luang, ada
pula yang bekerja untuk mencari identitas, dsb. Apapun alasan manusia
bekerja, semuanya adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut Maslow
kebutuhan manusia secara garis besar dapat dibagi atas : kebutuhan
fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan dimiliki, kebutuhan harga
diri, dan aktualisasi diri. Alasan seseorang bekerja bisa memenuhi
salah satu kebutuhan yang diutarakan oleh Abraham Maslow. Bila
ditelusuri lebih jauh, suatu pekerjaan lebih berkaitan dengan
kebutuhan psikologis seseorang dan bukan hanya berkaitan dengan
kebutuhan materi semata. Secara materi, orang bisa memenuhi kebutuhan
sandang pangan melalui bekerja. Namun secara psikologis arti bekerja
adalah menimbulkan rasa identitas, status, ataupun fungsi sosial
(Steers and Porter, 1975). Dengan perkataan lain, orang merasa
berharga jika ia bisa mengatakan posisi dan pekerjaannya. Semakin lama
seseorang bekerja, tentunya identitas itu akan semakin melekat pula.
Kondisi fisik manusia untuk bekerja ada batasannya, semakin tua
seseorang, semakin menurun kondisi fisiknya, maka beriringan dengan
hal itu produktivitas kerja pun akan menurun. Pada waktunya seseorang
akan diminta untuk berhenti bekerja, yang awamnya dikenal dengan
istilah pensiun. Masa pensiun ini dapat menimbulkan masalah karena
tidak semua orang siap menghadapinya. Pensiun akan memutuskan
seseorang dari aktivitas rutin yang telah dilakukan selama
bertahun-tahun, selain itu akan memutuskan rantai social yang sudah
terbina dengan rekan kerja, dan yang paling vital adalah menghilangkan
identitas seseorang yang sudah melekat begitu lama (Warr dalam Offord,
1992). Tidak heran masa pensiun ini menimbulkan masalah psikologis
baru bagi yang menjalaninya, karena banyak dari mereka yang tidak siap
menghadapi masa ini.
Ketidak–siapan menghadapi masa pensiun pada umumnya timbul karena
adanya kekhawatiran tidak dapat memenuhi kebutuhan–kebutuhan
tertentu. Perubahan yang diakibatkan oleh masa pensiun ini memerlukan
penyesuaian diri. Atchley (1977) mengatakan bahwa proses penyesuaian
diri yang paling sulit adalah pada masa pensiun. Bahkan penelitian
yang dilakukan oleh Holmes dan Rahe (1967), mengungkapkan bahwa
pensiun menempati rangking 10 besar untuk posisi stress.
Dengan memasuki masa pensiun, seseorang akan kehilangan peran
sosialnya di masyarakat, prestise, kekuasaan, kontak sosial, bahkan
harga diri akan berubah juga karena kehilangan peran (Eyde, 1983).
Bahkan akibat yang paling buruk pada pensiunan adalah bisa
mengakibatkan depresi dan bunuh diri (Zimbardo, 1979). Sedangkan
akibat pensiun secara fisiologis oleh Liem & Liem (1978) dikatakan
bisa menyebabkan masalah penyakit terutama gastrointestinal, gangguan
saraf, berkurangnya kepekaan. Ia menyebut penyakit di atas, dengan
istilah retirement syndrome.
Dampak pensiun bukan hanya bersifat negatif saja, namun juga terdapat
dampak positifnya, yakni seseorang bisa terbebas dari rutinitas kerja.
Ada perasaan puas karena sudah berhasil menyelesaikan tugas dan
kewajibannya. Bahkan Perlmutter (1981) mengatakan bahwa sebagian besar
kaum pension menunjukkan perasa puas, tetap merasa dirinya berguna dan
dapat mempertahankan rasa identitasnya. Rasa depresi dan kecemasan
yang timbul biasanya berada pada tingkat ringan dan sifatnya hanya
sementara. Kalaupun depresi bertambah hal itu disebabkan oleh gangguan
fisik dan bukan karena masa pensiun itu sendiri.
Walaupun reaksi seseorang terhadap masa pensiun bisa berbeda-beda,
tetapi dampak yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah
berkurangnya jumlah pendapatan keluarga. Di Indonesia, khususnya
pensiunan Pegawai Negeri Sipil kondisi keuangan lebih menyedihkan.
Data yang diperoleh dari Kompas, 2001 bahkan ada pensiunan golongan I
yang menerima rapel kenaikan pensiunan dari bulan Januari sampai
dengan Juli 2001 hanya sebesar Rp. 700,00 ( tujuh ratus rupiah saja).
Artinya kenaikan yang diterimanya hanya sebesar Rp.100,00 ( seratus
rupiah) per bulannya. Sebagai seorang kepala keluarga tentunya hal ini
bisa menimbulkan stress kepada seluruh keluarga, dalam hal ini istri
dan anak. Terlebih jika anak belum bekerja bahkan masih kuliah,
sementara istripun tidak bekerja. Selama ini yang menjadi patokan
untuk memasuki masa pensiun adalah faktor usia dimana pekerja dianggap
mulai kurang produktif. Di negara barat, seseorang baru memasuki masa
pensiun jika ia berusia 65 tahun. Ketika seseorang memasuki masa
tersebut secara psikologis ia sudah masuk pada kategori dewasa akhir
atau yang lebih dikenal dengan istilah manula. Artinya dari segi
produktivitas kerja sudah menurun, dan dari tugas perkembangan pun
mereka telah dipersiapkan untuk menikmati kehidupan mereka.
Sementara di Indonesia situasinya berlainan, seseorang memasuki masa
pensiun ketika ia berusia 55 tahun. Meskipun bagi golongan Pegawai
Negeri Sipil tertentu batas usia tesebut di tambahkan, karena
keahliannya. Usia 55 tahun secara psikologis masuk dalam kategori
dewasa menengah, mereka masih cukup produktif dan belum dapat
digolongkan orang manula. Pada masa ini seseorang masuk pada tahap
reevaluasi diri. Pertanyaan seperti “Apakah saya sudah berhasil
dalam hidup?�, “Apa yang akan saya lakukan dalam sisa hidup
saya?�, akan muncul dalam pikiran orang dewasa menengah. Biasanya,
seseorang pada masa ini akan berada pada puncak karir. Tetapi keadaan
ini tidak akan berlangsung lama khususnya untuk orang di Indonesia
karena sudah harus pensiun. Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan
fisik mereka mulai menurun, tapi mereka masih cukup produktif. Tidak
heran jika hal ini bisa menimbulkan konsekuensi psikologis tertentu;
disatu pihak mereka masih mampu bekerja tapi dipihak lain harus
berhenti bekerja karena peraturan perusahaan.
Ditinjau dari sudut pandang psikologis, pensiun menyebabkan seseorang
akan mempertanyakan kembali “Siapa diriku?�. Hal ini dikenal
dengan istilah konsep diri, atau self concept. Menurut Sullivan dalam
Wrightsman ( 1993) konsep diri adalah bagaimana kita melihat diri kita
sebagaimana orang lain melihat kita. Prinsipnya adalah penilaian yang
direfleksikan kembali atau reflected appraisal. Konsep diri merupakan
hal yang penting artinya dalam kehidupan seseoarng, karena konsep diri
menentukan bagaimana seseorang bertindak dalam berbagai situasi. Jika
kita memahami konsep diri seseorang kita akan mampu memahami tindakan
dan juga dapat meramalkan tingkah lakunya dikemudian hari. Konsep diri
berkatian dengan dengan kesehatan mental seseorang (Biren, 1980).
Dengan kata lain jika konsep diri seseorang positif maka hal ini akan
mempengaruhi kesehatan mentalnya juga.
Hurlock (1978) mengatakan bahwa seseorang yang mempunyai konsep diri
positif adalah jika ia berhasil mengembangkan sifat-sifat percaya
diri, harga diri dan mampu melihat dirinya secara realistik. Dengan
adanya sifat–sifat seperti ini orang tersebut akan mampu berhubungan
dengan orang lain secara akurat dan hal ini akan mengarah pada
penyesuaian diri yang baik di lingkungan sosial. Orang yang mempunyai
konsep diri negatif sebaliknya akan merasa rendah diri, dampak dari
proses pensiun ini bisa menimbulkan efek psikologis yang lebih berat.
inadekuat, kurang percaya diri. Diprediksi bahwa orang yang mempunyai
konsep diri negatif akan mengalami hambatan dalam proses penyesuaian
dirinya di lingkungan baru. Masa pensiun bisa mempengaruhi konsep
diri, karena pension menyebabkan seseorang kehilangan peran (role),
identitas dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi harga diri mereka
(Turner, 1961). Pensiun akan menyebabkan seseorang kehilangan perannya
dalam masyarakat yang selanjutnya mempengaruhi statusnya dan pada
akhirnya bisa mempengaruhi konsep diri menjadi negatif. Akibat
psikologis dari hal ini adalah nantinya akan mempengaruhi kesehatan
mental seseorang, dan juga proses penyesuaia dirinya. Intervensi dalam
menghadapi masa pensiun penting dilakukan oleh perusahaan. Sebagian
besar perusahaan memang sudah membuat program pensiun untuk menghadapi
masalah keuangan, tapi belum banyak yang tertarik untuk melakukan
intervensi untuk menghadapi konflik psikologis yang dihadapi para
pensiunan.
Intervensi dalam menghadapi masa pensiun penting dilakukan oleh
perusahaan. Sebagian besar perusahaan memang sudah membuat program
pensiun untuk menghadapi masalah keuangan, tapi belum banyak yang
tertarik untuk melakukan intervensi untuk menghadapi konflik
psikologis yang dihadapi para pensiunan.
PERUBAHAN-PERUBAHAN AKIBAT PENSIUN
Menurut Turner dan Helms (1982) ada beberapa hal yang mengalami
perubahan dan menuntut penyesuaian diri yang baik ketika menghadapi
masa pensiun:
1. Masalah Keuangan. Pendapat keluarga akan menurun drastis, hal ini
akan mempengaruhi kegiatan rumah tangga. Masa ini akan lebih sulit
jika masih ada anak-anak yang harus dibiayai. Hal ini menimbulkan
stress tersendiri bagi seorang suami karena merasa bahwa perannya
sebagai kepala keluarga tertantang.
2. Berkurangnya harga diri (Self Esteem). Bengston (1980)
mengemukakan bahwa harga diri seorang pria biasanya dipengaruhi
oleh pensiunnya mereka dari pekerjaan. Untuk mempertahankanÂ
harga dirinya, harus ada aktivitas pengganti untuk meraih kembali
keberadaan dirinya. Dalam hal ini berkurangnya harga diri
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti feeling of belonging
(perasaan memiliki), feeling of competence (perasaan mampu), dan
feelling of worthwhile (perasaan berharga). Ketiga hal yang
disebutkan di atas sangat mempengaruhi harga diri seseorang dalam
lingkungan pekerjaan.
3. Berkurangnya kontak sosial yang berorientasi pada pekerjaan.
Oleh karena itu intervensi perusahaan dalam rangka mempersiapkan
pension untuk karyawan, hendaknya memperhatikan kondisi-kondisi
tersebut diatas. Atas alasan tersebut diatas training merancang
sedemikian rupa baik materi maupun factor-faktor pendukung pelatihan
persiapan masa pension sesuai dengan kebutuhan dan kondisi para
peserta pension bahwa, Masa Persiapan Pensiun (MPP) adalah:
1. Masa belajar untuk tidak bekerja
2. Merenungkan untuk memasuki alam baru
3. Mengenali diri : Hobby, kecenderungan diri
4. Peluang menemukan kegiatan baru.
MENCIPTAKAN AKTIFITAS?
Ada berbagai macam pilihan aktivitas antara lain:
1. Bisnis Dengan Orientasi Profit? Sukses bisnis di masa pension
tentu memerlukan definisi baru, dan tentu tidak bisa seragam
dengan definisi sukses bisnis untuk usia-usia produksti. Sehingga
diperlukan pemahaman atau tafsir baru yang sesuai dengan kondisi
usia masa persiapan pension.
2. Pilihan yang lain adalah Bisnis Untuk “Enjoying Life�? seperti
mengembangkan hobi , membuat yayasan, dan pelayanan kepada
masyarakat.
TRAINING OBJECTIVE:
1. Melakukan penyadaran tentang makna purna tugas
2. Mempersiapkan dunia baru, setelah memasuki purna tugas.
3. Memberikan bekal psikologis dalam menghadapi purna tugas
4. Memberikan wawasan, ide-ide sebagai pilihan untuk beraktifitas
setelah purna tugas.
5. Memberikan tips-tips dalam mengarungi masa purnabakti, baik secara
sosial, ekonomi dan kesehatan.
Â
PELATIHAN PERSIAPAN PENSIUNÂ TRAINING OUTLINEÂ
1. Purna bakti dan enjoying life
2. Masa aktif ke masa pensiun
3. Strategi pensiun
4. Tips sukses pensiun
5. Sukses sosial
6. Sukses ekonomi
7. Sukses kesehatan
8. Sharing pengalaman dengan orang sukses pensiun
9. Field trip ke small business
- Field Trip ke lokasi wisata WHO SHOULD ATTEND THIS TRAINING?
- Karyawan Yang Akan Memasuki MPP TRAINING METHOD AND TOOLS:
- Experiential learning (cara belajar orang dewasa, pembelajaran
yang berpusat pada peserta dengan permainan, diskusi kecil,
simulasi dsb. Untuk beberapa ada yang bersifat penyuluhan, dan
pemeriksaan kesehatan serta konsultasi. - Berbagi pengalaman dengan pelaku
- Self analisis
- Anjang sana ke objek-objek yang potensial menjadi pilihan
peserta, baik dalam berbagi pengalaman maupun peluang - Tindak lanjut pasca pelatihan
Jadwal Pelatihan Gemilang Training Tahun 2026
- Batch 1 : 7 – 8 Januari 2026
- Batch 2 : 11 – 12 Februari 2026
- Batch 3 : 4 – 5 Maret 2026
- Batch 4 : 8 – 9 April 2026
- Batch 5 : 6 – 7 Mei 2026
- Batch 6 : 10 – 11 Juni 2026
- Batch 7 : 8 – 9 Juli 2026
- Batch 8 : 5 – 6 Agustus 2026
- Batch 9 : 9 – 10 September 2026
- Batch 10 : 14 – 15 Oktober 2026
- Batch 11 : 4 – 5 November 2026
- Batch 12 : 2 – 3 Desember 2026
Catatan : Jadwal tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan calon peserta pelatihan.
Investasi dan Lokasi pelatihan:
Yogyakarta, Hotel 101 (6.000.000 IDR / participant * syarat & ketentuan berlaku)
Jakarta, Hotel Amaris Kemang (6.000.000 IDR / participant * syarat & ketentuan berlaku)
Bandung, Hotel Neo Dipatiukur (6.000.000 IDR / participant * syarat & ketentuan berlaku)
Bali, Hotel Ibis Kuta (6.000.000 IDR / participant * syarat & ketentuan berlaku)
Surabaya, Hotel Amaris, Ibis Style (6.000.000 IDR / participant * syarat & ketentuan berlaku)
Lombok, Sentosa Resort (6.000.000 IDR / participant * syarat & ketentuan berlaku)
Catatan : Apabila perusahaan membutuhkan paket in house training, anggaran investasi pelatihan dapat menyesuaikan dengan anggaran perusahaan.
Fasilitas :
Module / Handout
FREE Flashdisk
Sertifikat
FREE Bag or bagpackers (Tas Training)
Training Kit (Dokumentasi photo, Blocknote, ATK, etc)
2xCoffe Break & 1 Lunch, Dinner
FREE Souvenir Exclusive
Training room full AC and Multimedia



